Minggu, 05 November 2017

Pengabdi Setan

Minggu lalu akhirnya gw nonton juga film Pengabdi Setan, setelah 1 bulan tayang dari tanggal rilisnya 28 September. Ngeliat review”nya katanya nyeremin. Berhubung gw emang demen film horror, nonton deh. Jadi di tulisan ini gw mau ngreview sedikit tentang film ini. Bagi yang pengen nonton Pengabdi Setan tapi belum sempet, jangan lanjut baca ya. Ga seru kan klo kalian mau nonton tapi udah ketauan ni film gimana”nya. Bagi yang belum nonton karena takut tapi kepo, oke silakan lanjut baca.

Film Pengabdi Setan besutan Joko Anwar ini sebenarnya adalah remake dari film dengan judul yang sama yang rilis tahun 1980-an. Pengabdi setan yang pertama itu malah berhasil menyandang predikat sebagai film horror terlaris di Indonesia. Juga berhasil tembus ke mancanegara. Walaupun remake, tapi pengabdi setan yang kekinian ini mengambil alur yang berbeda dengan film aslinya walau masih dalam benang merah yang sama.

Berlatar tahun 1981, film ini mengisahkan sebuah keluarga dengan 4 orang anak. Yang sulung dan perempuan satu”nya, Rini, 22 tahun, kuliah tapi berhenti. Yang kedua, Toni, masih SMA usia 16 tahun. Yang ketiga, Bondi, masih SD usia 10 tahun. Dan yang bungsu, Ian, menjelang usia 7 tahun (klo di film sepertinya yang bungsu ini blm sekolah). Yang bungsu ini tuna rungu. Ibunya anak” ini sudah sakit selama 3 tahun dan finansial mereka udah cekak untuk pengobatan ibu dan biaya hidup sehari-hari. Mereka udah gadai rumah mereka lantas tinggal di rumah nenek (ibu dari pihak Bapak), juga jual motor. Ga dijelaskan ibu ini sakit apa, yang jelas Ibu digambarkan cuma bisa berbaring di tempat tidur dan diberi lonceng yang bisa dibunyiin untuk manggil anggota keluarganya tiap Ibu butuh sesuatu. Ada adegan yang bikin gw semi gemes, yaitu tokoh Ibu kan lagi sakit ya, sampe ga bisa bangun dari tempat tidur. Nah kok si Bapak aka suaminya sendiri ga mau tidur sama Ibu. Doi malah tidur di luar. Istrimu membutuhkanmu Pak, lagi atit ituuh, malah ditinggal. Aiih..

Singkat cerita ni Ibu meninggal. Besokannya setelah istrinya meninggal, Bapak pamit pergi untuk beberapa lama. Mengingat ni film mengambil latar tahun 1980-an, jadi blm ada handphone untuk komunikasi praktis. Telepon rumah pun diceritakan ga ada karena udah diputus. Dan si Bapak blm tau nanti tinggalnya dimana sehingga jika anaknya ingin berkirim surat pun bingung dialamatkan kemana. Dengan segala kebingungan itu, terlebih mereka masih berduka karena Ibu mereka baru saja meninggal, anaknya pun berusaha mencegah kepergian Bapak dengan mengatakan nanti klo mereka butuh Bapak, gimana. Namun tanpa disangka” Bapak malah berucap,,

“Emang kira-kira butuh Bapak buat apa??”

Lah lah lah,, speechless gw. Kok si Bapak bisa”nya ngomong kayak gitu ke anaknya. Yaudah skip. Beberapa hari setelah Bapak semprul ini pergi, nenek mereka meninggal. Dan berlanjut ke kejadian aneh yang kerap terjadi. Gw ga akan spoiler cerita selanjutnya karena disitulah cerita horrornya bermunculan.

Bagi kalian yang demen horror, secara keseluruhan film ini cukup menghibur. Setannya berhasil menjadi sosok hantu yang tidak ditertawakan penonton. Dan menurut gw itu penting banget. Karena klo setannya aja ga serem atau malah lucu, akan berimbas ke suasana horror yang ingin ditampilkan. Gimana mau bikin penonton degdegser klo setannya aja kurang seru kan. Dan ini patut diapresiasi.

Untuk soundnya, gw acungin jempol. Terutama OST nya yaitu lagu hit si Ibu “Di,, kesunyian malam ini. Ku datang menghampiri..” itu paten abis! Musiknya, suara penyanyinya, pembawaannya, bener” aura lagu lawasnya tuh dapet banget. Padahal itu lagu baru loh, yang baru diciptain untuk film ini, cuma emang terinspirasi dari lagu lama. Asli keren.

Tapii…

Buat gw pribadi, film ini gagal membuat gw takut. Hahhahaha belagu. Bukan berarti filmnya ga seram ya, tapi emang adalah hal yang sulit untuk membuat gw takut sama hal” yang berbau hantu, setan, dsb. Klo film thriller yang darah” ngalir gampang banget bikin gw ngerasa ngilu, karena gw orangnya emang ngiluan. Tapi klo film horror, gw tipe penonton yang malah menanti dan mantengin tiap sosok si setan nongol, dan selama ini cuma satu film horror yang berhasil bikin gw teriak bahkan sampe meremin mata saat teriak, yaitu film Jelangkung (2001).

Bahas dikit tentang film Jelangkung ya. Dulu film Jelangkung meledak abis tapi ga semua bioskop nampilin film ini. Aneh kan?? Karena umumnya film yang laris pasti ditampilin di tiap bioskop. Rumor yang saat itu beredar sih karena film ini membawa efek” mistis sehingga banyak bioskop yang ogah nayanginnya. Gw dulu ngejer nonton film ini sampe ke Blok M, jauh dari rumah karena yang sekitaran rumah ga ada yang nayangin. Dan di Blok M itu antriannya waah.

Kenapa film Jelangkung berhasil bikin gw takut adalah karena aura seram yang memang dibangun dari awal cerita. Berlatar tentang pembantaian yang dilakukan masyarakat kepada seorang bocah yang dianggap membawa malapetaka. Di awal film dijelaskan dengan teks tentang tahun, cerita singkat, dan nama desa yang menjadi lokasinya dilanjutkan dengan visualisasi pembantaian si bocah, sehingga gw sebagai penonton merasa bahwa kejadian pembantaian tersebut di tahun dan lokasi itu memang pernah terjadi (yang ternyata itu fiktif). Perbuatan membantai itu seram ga?? Buat gw sih banget, terlebih saat itu gw pikir pembantaian bocah tersebut emang berdasarkan kejadian nyata. Dan dari situlah aura seram itu dibangun.

Mungkin itu yang membedakan film horror jaman dulu dengan film horror kekinian. Film horror kekinian lebih mengandalkan penampakan si setan dan musik yang menggelegar tiba” untuk menghasilkan jump scare tanpa memperhatikan alur cerita atau membangun aura seram sebelumnya. Sehingga begitu si setan datang, penonton kaget, lantas si setan pergi, dan penonton jadi biasa lagi. Tanpa bergidik, tanpa kesan.. Seolah” nonton film horror cuma buat dikagetin. Heaa..

Balik lagi ke film Pengabdi Setan. Dengan pemilihan lokasi syuting yang baik, musik, alur, akting para pemain, pencahayaan, make up, bahkan latar yang berhasil banget memberi kesan lawas, dengan tangan dingin sutradara yang oke, gw sangat mengapresiasi kemunculan film Pengabdi Setan ini. Hebatnya lagi ni film udah tembus 4 juta penonton dan masih bertambah karena ketika gw nulis ini, filmnya masih diputar di banyak bioskop yang berarti bertahan lebih dari sebulan. Dan kabarnya film ini juga akan ditayangkan di mancanegara. Jika Jepang punya Ju On, Amerika punya Insidious, maka Indonesia punya Pengabdi Setan. Salut! Maju terus perfilman Indonesia. Bangga nonton film Indonesia. :D

Selasa, 24 Oktober 2017

Dialog Favorit

Gw suka banget sama film. Saat nonton film, gw akan membiarkan diri gw terhanyut sama alur cerita dan jika film tersebut berhasil meninggalkan kesan, gw akan mengingat nama sutradara dan nama aktor/ aktrisnya untuk menunggu karya mereka yang berikutnya atau mencari karya mereka yang sebelumnya. Untuk sutradara luar favorit, gw suka Peter Jackson (totalitas abis doi klo bikin film!!), David Fincher, Steven Spielberg, James Wan, Alejandro Inarritu, Christopher Nolan, aah masih banyak lagi. Untuk aktor luar beberapa aja, yaitu Leonardo DiCaprio dan Kevin Spacey. Itu untuk ranah Hollywood,  di luar itu aktor favorit gw adalah,, Shahrukh Khan.. *senyum lebar

Shahrukh Khan. Untung banget dulu gw nonton konsernya di SICC Sentul, tanggal 8 Desember 2012. Padahal saat itu gw lagi ngekos untuk nyelesaiin skripsi dengan deadline tanggal 21 Desember (masih inget). Uang saku dijatahin sejumlah 800rb, ud termasuk bayar uang kosan 450rb sebulan. Yang jika diitung”, berarti uang saku gw sekitar 350rb untuk sebulan. Gw pulang kerumah seminggu atau 2 minggu 1x. Dan tiket shahrukh khan yang paling murah adalah gope. Heaaaa. Untungnya saat itu gw udah ada kerjaan harian dengan bayaran 150rb perhari, dapet makan prasmanan, snack, dan voucher taksi untuk transport pulang pergi. Akhirnya di bulan Oktober gw memutuskan untuk beli tiket konsernya yang ternyata setelah dicek, tiket gopenya udah abis. Yaaahh.. Di atasnya itu masih ada sih, tapi harganya 750rb. Sempet bingung dan kesel sendiri tapi berhubung gw ga mau mengulur waktu nti yang ada malah kehabisan lagi, jadi gw klik dah tu tiket. Bela”in banget. Dan di momen konser itulah untuk pertama kalinya gw melihat langsung aktor India favorit gw, Shahrukh Khan. Yeay!!

Ini dia tiketnya. masih tersimpan baik :D

Tapi kali ini yang sebenarnya ingin gw bahas bukanlah mengenai konser tersebut melainkan dialog” favorit gw di beberapa film Shahrukh Khan. Ini dia dialog”nya,,

Cinta adalah persahabatan. -Kuch Kuch Hota Hai
Pasti tau doonk dialog yang satu ini. Yup, ini diucapin sama Rahul (yang diperankan Shahrukh) saat ditanya tentang apa itu cinta. Dan jawaban Rahul ini bikin sohibnya, Anjali, jadi baper. Duhduhduh…

Jika kau tak menangis sepenuh hati, bagaimana bisa kau tertawa sepenuh hati?? –Dear Zindagi
Dear Zindagi rilis akhir tahun lalu. Asli pas awal nonton ni film, gw semi suntuk karena menurut gw banyak percakapan yang rada absurd. Okelah itu karena banyak dialog Kaira si tokoh utama dengan kawan”nya. Namanya juga ngomong sama teman jadi ya rem suka ngeblong alias kalimat” kasar ga jelas juga suka keucap kan. Hahhaha. Tapi jika kita ikuti terus, ni film ternyata dalam loh. Seriusan. Recommended movie!

Itu bukan hutang, Taani. Itu cintaku. –Rab Ne Bana Di Jodi
Bagi gw, inget Rab Ne Bana Di Jodi berarti inget Epa dan Bek. 2 pria baik hati yang perlente. Pertama naik gunung sama Bek, ke Merapi, baru ketauan bahwa dia demen India dan jago nyanyinya. Hihihi. Pulang dari Merapi, gw dan Bek mampir ke rumah Epa yang berimbas pada Epa kita cekokin film India, dan itu Rab Ne Bana Di Jodi. Nonton streaming dah. Wkwkwkw. Film India bukan film buat kaum hawa aja koo. Pria boleh banget loh nonton film India. Film ini mengisahkan usaha seorang suami untuk membuat sang istri mencintainya. Hahh, udah nikah tapi istrinya belum cinta?? Tonton aja. Hehhehe

Keluarga tidak hanya karena sedarah, mereka dibuat karena cinta juga. –My Name is Khan
Who doesn’t know this movie?? My Name is Khan benar” film yang luar biasa mengena dengan pesan moralnya bahwa hei, muslim bukanlah teroris. Nice shot!

Kau tahu Tuan Shankar, aku tidak punya foto Megha. Aku tidak merasa membutuhkannya. Karena aku melihat Megha dimanapun aku melihat cinta. –Mohabbatein
Mohabbatein ini sempat menjadi film India terbaik versi gw sebelum akhirnya posisinya tergeser dengan Jab Tak Hai Jaan yang rilis menjelang konser Shahrukh. Film ini mengisahkan bahwa kekerasan hati bisa luluh oleh cinta. *meleleh

Tapi kumohon jangan katakan bahwa aku sudah menyakitimu –Kabhi Khushi Kabhie Gham
Dialog ini diucapkan oleh seorang anak kepada Ayahnya yang kecewa dengan sikap anaknya. Ayahnya mengatakan bahwa anaknya tersebut telah menyakitinya dan lantas menangis. Sebuah film keluarga tentang hubungan orangtua-anak, anak-orangtua yang layak banget untuk ditonton. Klo nontonnya menghayati, bakal deres dah nonton ni film, bukan sekedar menggenang atau menetes lagi. :p

Itu dia dialog” favorit gw di beberapa filmnya Shahrukh Khan. Kalau kalian sukanya yang mana??


Rabu, 10 Agustus 2016

Catper Gunung Rakutak dan Gunung Puntang, 13-15 Juli 2016



Unpredictable journey.. *preet :))

Berawal dari bbm Bek yang ngabarin untuk prepare di tanggal 11. Pas  gw tanya emang mau kemana, dijawablah 4 gunung sekaligus; Rakutak, Manglayang, Bongkok, Parang. Gila, overdosis. Tapi gw iyain. Hahhaha berarti gw lebih gila. Tadinya emang mau tanggal 11, tapi diundur karena something happened. Yasuw akhirnya mundur 1 hari, jadi tanggal 12 Juli.

Di hari kesepakatan, Selasa tanggal 12 sekitar jam setengah 6 sore, anak” baru nyampe di rumah gw.  Oia, tim gunung overdosis ini berjumlah 4 orang; gw, Respa yang selanjutnya gw panggil Epa,  Bek, dan Ali. Ali ini teman Epa dan Bek, mereka bertigaan ke Slamet. Sakit atiii gw klo liat foto” Slamet mereka. Padahal dulu pas mau nanjak Slamet, Epa udah ngajak gw tapi gw nya yang nolak. Huhuhuu abis mereka ke Slametnya Desember, pas curah hujan lagi tinggi. Jadi gw kira ga bakal asoy. Ternyata cerah selama pendakian. Eaak mupeng. Skip skip. Balik ke cerita. Gw pikir kita berangkatnya abis isya, ternyata kaga. Mereka ngaso dulu di rumah gw dan  kita dinner bareng sambil nonton tipi. Ciyeeh :))

masih di rumah

Hari ke-1, 13 juli 2016
Sekitar jam setenga1 dini hari, kita baru berangkat dari rumah gw di Depok, motoran menuju basecamp Rakutak. Touring dulu. Mereka sih emang dasar anak kalong, melek malam hari, lah gw nya kaga. Jadilah gw ngantuk”an di motor. Gw dibonceng sama Epa dan berkali” pula dibangunin sama dia karena bahaya banget tidur di motor. Sorry Paa.. Saat ngantuk tapi ga boleh tidur itu beraat.

Setelah perjalanan kurang lebih 4 jam, menjelang subuh, kita akhirnya sampai di basecamp Rakutak. Pintu rumah yang dijadiin basecamp ini tadinya masih ketutup pas kita parkir motor, tapi segera dibuka sebelum kita ngetok. Hehhehe cucok. Disambut dengan ramahnya sama Pak Agus selaku tuan rumah. Makasih Pak :D Nah, saat ngobrol sama Pak Agus, satu persatu dari kita mulai tumbang. Ngantuk. Dimulai dari para driver, Bek dan Epa. Selanjutnya gw. Ga bagus sih sebenernya tidur setelah subuh. Tapi mata minta dimeremin karena emang belum tidur. Lumayan dapet tidur hampir sejam.

Sekitar jam 7 dibangunin untuk siap”. Otree :D Setelahnya kita ngiter” dulu cari sarapan. Pengennya sih bubur ayam, tapi ga ada. Yasuw yang ada aja. Usai sarapan gorengan murah meriah, jam setengah 9 nanjak ke Rakutak pun dimulai. Kita diantar Pak Agus ke jalur pendakian.

Trek awal Rakutak masih oke sebelum akhirnya jadi makin licin dan lengket. Berasa di Salak, tanahnya nempel tebel di sepatu. Awalnya gw masih care klo nemu batu masih sok” ngebersihin alas sepatu dari tanah dengan ngegesek” tu sepatu ke batu. Eh ternyata trek di depan masih begitu. Akhirnya bodo amat jalan aja terus ga pake gesek” sepatu lagi. Wakakakk.

Pas ngelewatin sungai, Bek minta break bentar, mendadak kebelet. Yasuw kita berhenti. Udah ditungguin ternyata dia ga jadi. Feel nya ga dapet, mendadak ilang. Apaan banget dah. Hahhaha. Lanjut jalan dan akhirnya nyampe di kolam. Oia, dari Pak Agus, kita dapet peta Rakutak. Rakutak ini punya dua jalur dan kita lewat jalur 1. Nah setelah kolam ini, kita nglewatin 5x jembatan dari bambu.

di kolam

Lanjut jalan. Setelah 3 jam berjalan dan nemu lahan datar yang rimbun dengan pohon, kita rehat yang bablas jadi ketiduran. Masih pada cape semua karena begadang touring. Pas gw bangun ternyata udah jam setengah 1 kurang 10. Udah siang tapi kita belum juga nyampe pos 1. Gw banguninlah anak” untuk lanjut jalan lagi.

Sekitar setengah jam lanjut jalan, akhirnya nyampe juga di pos 1. Rakutak cuma punya 1 pos, tapi….. posnya jauuh dan baru nyampe ketika kita udah bosen menjalani treknya. Di pos 1 ini ada warung yang dagang gorengan dan minuman. Ada sumber air di dekat warung ini. Kita pun ngrest lama di sini.

Siang itu panas terik. Usai rehat lama di pos 1, kita lanjut jalan lagi dan nyampe di puncak dua Rakutak, belum puncak utama. Nah, dari puncak dua ke puncak utama ini kita nglewatin punggungan seimprit yang kanan kirinya jurang. Pas ngliat treknya gw sempet krik krik krik tapi akhirnya dilewatin juga dan sampailah kita di puncak utama Rakutak. Akhirnyee..

Rakutak tingginya emang ga nyampe 2000, cuma 1922 mdpl. Tapi treknya di luar dugaan. Perpaduan Salak dan Cikuray plus punggungan seimpritnya yang kayak miniatur Raung. Warbiasak. Rasanya ketinggian gunungnya ga sebanding dengan treknya yang nanjak terus dan panjang. Dari yang prediksi kita dari bawah ke Puncak sekitar 3 jam, ternyata kita sampai 6 jam. Dikorting tidur di lahan datar tadi hampir sejam. Ga ada niat tidur padahal. Tadinya mau ngrest biasa aja, malah ketiduran kita berempat. Yeeay kualat, kecapean. :)) 

Oia, tadinya kita rencananya tektok aja di Rakutak ini,. Tapi sekali lagi, karena ga cuma treknya yang unpredictable, tapi juga cuacanya, jadinya kita ngcamp. Pas nyampe puncak, langit tuh emang udah mendung” gitu. Bek pun inisiatif untuk bangun tenda buat jaga” kalo ujan turun. Dan tenda yang dibawa pun cuma 1 tenda, itu pun yang kapasitas 2 orang *ngakak. Dan betul aja sih, usai kita masak dan rapihin barang”, gerimis datang menyapa. Masuklah kita berempat di tenda cute itu. Gw sih masih pewe” aj sama tu tenda, berhubung body gw hemat. Lah mereka kaki pada nekuk nyiksa banget. Jadi tenda kapasitas 2 orang ini kita isi berempat dengan formasi yang klo berdua tuh vertikal, nah kita berempat horizontal, plus barang”. Bayangin dah tuh. :))

Awalnya kita berempat masih stay cool dengan tuh formasi. Apalagi Bek yang sok iye dengan bilang,”aman nih. Pewe. Udah, bisa tidur kita.” Gw sih ketawa aja dengernya terlebih ngliat kaki” mereka yang pada nekuk total tapi mencoba bertahan. Sampai akhirnya Epa memecah formasi dengan ngomong,”ah gw di luar aja ah” yang disusul sama Ali,”gw ikut, Poy.” Dan itu emang strategi Bek yang sok pewe dengan tuh formasi biar tetep stay di tenda. Wakakak dia berstrategi. Klo Epa aja  ga kuat sama tuh formasi, ga mungkin Bek yang lebih tinggi dari Epa malah betah, kecuali klo badan dia lentur kayak uler *ngakak. Jadilah Epa dan Ali tidur di luar dengan matras dan sleeping bag. Untung saat mereka keluar, gerimis udah reda dan ga ada gerimis atau hujan di sepanjang malam. 

Gw ga inget kita pada mulai tidur jam berapa karena tidak ada makan malam berhubung kehabisan logistik. Iya, kita kehabisan logistik. Karena niat awalnya kan tektok aja, ga ngcamp. Jadi logistik yang dibawa juga sekedar cemilan macam rambut nene dan kerupuk. Ga ada beras apa lagi  lauk. Jangan ditiru yak *nyengir.

Hari ke-2, 14 Juli 2016
Sekitar jam 4 pagi gw keluar tenda untuk gabung sama Epa dan Ali yang stay di luar dan lagi ngobrol. Mereka ga pewe tidurnya. Wakakakakk kasian. Ali yang lagi meler jadi tambah meler karena tidur di luar. Epa, berhubung dia beruang, rasa ngantuknya bisa dia tahan dan diakumulasi jadi hibernasi nantinya. Nah Bek, kalo dah tidur mah udah susah dibangunin, ga mandang dimana. Dicemplungin ke laut dulu baru melek. Pules bangeet. 

Menjelang subuh kita berempat udah ngumpul semua di luar tenda. Dan beberapa menit kemudian,, ngga sih, lumayan lama,, yang ditunggu tiba juga, yaitu matahari terbit! :D Ketika semburat cantik matahari  mulai menyapa, para pendaki lain mulai keluar juga dari tenda” mereka. Puncak Rakutak ramai pagi itu. :)


Puas menikmati datangnya pagi di puncak dan foto”, kita pun bergegas packing untuk turun kembali ke basecamp. Tadinya kita mau turun lewat jalur 2 biar ga perlu muter nglewatin puncak dua lagi. Tapi ga jadi karena berbagai pertimbangan. Akhirnya kita tetap turun lewat jalur 1.
ini dia miniatur Raungnya
Perjalanan turun terasa cepat karena belum apa” kita udah nyampe pos 1 lagi. Berhubung lapar, jajanlah kita di sini dan ga lupa ngisi air.  Logistik kita benar” oke karena semuanya habis, termasuk air minum. Wkwkwk.
Lanjut turun. Kita rehat lagi di lahan datar tempat kita ketiduran kemarin. Tapi kali ini kita rehat bukan untuk tidur lagi, melainkan bikin video indiahe dengan lagu Rab ne Bana Di Jodi, ost filmnya ayang Shahrukh Khan dengan judul yang sama. Hihihi.  Ada 2 video; yang pertama yang kita berempat, yang kedua mereka bertiga aja, gw yang videoin. Hahhaha, you’re the best, guys *ngakak.

Sesampainya kembali di basecamp Rakutak, kita pesen makan siang di sini sekaligus ngomongin tentang destinasi berikutnya.  Dan gunung kedua adalah Puntang. Ga jadi Manglayang?? Ngga, kan gw udah. Hihihi. Pak Agus bilang bahwa Puntang suka ga buka dan nyaranin kita untuk make sure dulu. Kita pun telpon basecamp Puntang untuk mastiin bahwa dibuka dan kita berempat bisa nanjak ke sana. Setelah oke, kita pamit ke Pak Agus dan berangkat ke basecamp Puntang.

Dengan ga lupa belanja logistik dulu biar ga kelaparan kayak di Rakutak, akhirnya kita sampai di basecamp Puntang. Basecampnya bernama PGPI, singkatan dari Persaudaraan Gunung Puntang Indonesia. Kata persaudaraan disingkatannya itu ga sekedar kata”. Kita disambut dengan ramah banget sama kang Dani. Disuguhi kopi dan cemilan pula. Dan basecamp PGPI ini pewe abis. Terbuat dari bambu dan kayu gitu.  Berasa kayak di rumah pohon. Enak. Terdiri dari 2 lantai. Di lantai atas ada mushola dan kamar. Setelah magrib, kita pun berangkat nanjak dengan diantar Kang Dani ke jalur pendakian.

Usai pisah sama Kang Dani, kita mulai menyusuri trek Puntang. Setelah naik sebentar, trek selanjutnya yang terhampar di depan kita bukannya naik atau bonus tapi malah turuuunn terus. Gw mulai curiga ni trek error, dan intuisi gw biasanya benar *preeett. Gw sampein deh ke anak”. Mereka juga ngrasain kecurigaan yang sama. Akhirnya Epa npon kang Dani buat make sure. Untung tadi dia minta nomornya. Anak pinter. Kang Dani bilang treknya memang ada turun dikit trus nanti naik lagi. Okeh kita lanjut jalan. Tapi trek yang kita laluin ternyata masih turun hingga akhirnya sampai di gubuk yang isinya anjing” lagi pada ngegonggong. Ga tau juga sih anjingnya emang ada di dalam tu gubuk apa dimana soalnya emang ga keliatan, cuma denger suara gonggongannya aja yang terasa dekat dan bersumber dari itu gubuk. Melipir ke kiri dari gubuk yang berada di sebrang, ko feeling gw ni jalur salah ya. Tapi emang ga ada jalan lain selain ke kiri. Akhirnya telpon kang Dani lagi aja dah. Pas kita ngasih tau posisi kita yang udah nglewatin gubuk trus disamping kita ada gubuk lagi, Kang Dani minta kita buat nunggu aja disitu, dia mau nyamperin. Aduh baiknyaaaa. See?? Gw selalu dikelilingi orang” baik. Alhamdulillaah. :D

Ga nyampe setengah jam nunggu akhirnya kita ketemu kang Dani dan benarlah jalur kita emang salah. Akhirnya balik ke jalur yang tadi kita turunin, yang jadinya sekarang dinaikin dan itu licin.  Jalan gempor”an di Jalur Puntang di malam hari. Kewren. Dan gw dengan sukarela jadi sweeper. Bukan apa”, tapi karena akang Dani nya ngrokok terus. Klo anak” mah udah paham bahwa sama gw ga boleh jalan sambil ngrokok. Lah tapi ini kan Kang Dani. Masak dia udah mau nemenin kita naik malah ga gw bolehin ngrokok. Kan songong. Wkwkwk. Jadi demi keamanan napas gw dan keamanan bersama, gw di belakang aja dah. Setan?? Aah udah ga main lagi gw sama setan. :D

Hari ke-3, 15 Juli 2016
Tadinya kita rencana ngcamp di puncak. Tapi seperti Rakutak, trek Puntang juga diluar dugaan. Menurut gw sih treknya masih capean trek Rakutak, tapi menurut Epa, Bek, dan Ali masih capean trek Puntang. Hahhahaha beda suara. Akhirnya alih” ngcamp di puncak, kita jadinya ngcamp di batu nisan. Jengjengjeeng *lebay :))

Batu nisan merupakan lahan datar yang cukup luas. Tapi walaupun namanya batu nisan, ga ada makam ko di sini. Klo bukan karena dikasih tau Kang Dani pun kita ga tau klo ni tempat namanya batu nisan karena ga ada penanda apa”. Sampai di batu nisan jam setengah 1 pagi, kita segera gerak cepat bangun tenda dan masak, Kang Dani bikin api unggun. Kompornya cuma satu jadi masaknya kudu satu”. Usai masak nasi, gw tertidur. Bek yang nglanjutin masak lauk dan ketika udah selesai, Bek bangunin kita semua untuk makan. Saat itu jam 2 pagi dan batu nisan terasa dingin menusuk.

Usai makan, gw segera masuk tenda untuk ganti baju dan tidur. Gw pikir gw bakal tidur sendiri di tenda ni malam. Saat gw udah dalam posisi siap merem,  ternyata Epa nanya dari luar,

“Ra, tenda masih muat ga??”
“ngga”
“Hah, udah ga muat??”
“ngga, ni gw  diapit barang2. Emang kenapa, lo mau tidur di sini Pa??”
“rencananya sih gitu”
“hoo yasuw gw beresin dulu. Bentar”

Gw yang tadinya sengaja nempatin barang” di kanan kiri gw dengan maksud nghalau angin untuk ngurangin dingin pun langsung nempatinnya di satu tempat. Begitu beres gw bilang Epa. Berhubung udah ngantuk berat dan cape, yang Alhamdulillah perut udah diisi, kita semua segera pingsan dengan cepatnya.

Usai subuh, gw balik tidur lagi karena ngantuk dan dingin juga. Baru bangun lagi jam setengah 8 kurang, langsung siap” buat muncak. Saat keluar tenda, Kang Dani ga ada. Kata Bek lagi jalan”. Bek juga cerita bahwa Kang Dani, yang ngakunya bawa sleeping bag ternyata ga bawa, dan semalam tidurnya meringkuk karena dingin. Ya angklung  Kang Daniii,, tau gitu kan bisa tidur di tenda. Udah tidur di luar ga pake sleeping bag pula. Kuat nian euy. Maaf ya.. //_\\”

Usai nyemil” cracker yang ada sebagai sarapan, kita mulai jalan ke puncak. Dari batu nisan ke puncak sekitar 1,5 jam. Ssstt,, 1,5 jam itu sebenarnya durasi Kang Dani dari bawah ke puncak Puntang. Pas kita tanya kalo dari batu nisan ke puncak berapa jam dijawab setengah jam. Berhubung Kang Dani jalannya melesat cepat ilang, jadilah setengah jam itu kita kali 3 jadi 1,5 jam *ngakak.

Perjalanan menuju ke puncak kita ada nglewatin batu kereta. Dinamain begitu karena batu”nya berderet banyak macam kereta api. Juga beberapa kali nemu sisa pondasi. Jadi di Puntang ini dulunya ada gedung siaran radio Belanda yang terbesar dan tersohor di zamannya. Tapi sekarang tu gedung udah dirobohkan. Yang tertinggal hanya sisa pondasinya.

Setelah terus berjalan, benar aja, hampir 1,5 jam  akhirnya kita sampai juga di puncak Puntang. Cucok kan hitungannya. Hahhaha. Puncak hanya dipenuhi oleh kita berlima saat itu. Private. Hehhe. Oia, puncak Puntang namanya puncak Mega dan ketinggiannya 2223 mdpl. Tapi seperti yang Kang Dani bilang sedari di basecamp bahwa penanda di puncaknya udah dicabut sama warga. Jadi puncak Puntang ini alami abis tanpa penanda apapun. 
sama Bek dan Epa, kompakan pakai baju ke-Indonesia-an :D

lengkap sama Kang Daniii
Sekitar sejam menikmati puncak dan puas foto”, kita segera turun dari Puncak. Sesampainya di tempat ngcamp, batu nisan, kita langsung packing. Di perjalanan turun, Kang Dani ngasih tau tempat kemarin kita salah jalur. Jalurnya sebenarnya bercabang, tapi asli ya, jalur yang benernya sedikit kehalang sama tanaman sekitar setinggi lutut, sedangkan trek yang salah, yang bikin kita nyasar justru lempeng aja tanpa kehalang tanaman. Klo siang masih keliatan tapi klo jalan malam ya begitu, lewatnya trek yang lempeng aja, ga keliatan bahwa ada trek yang lain. Gelap. Hehhehe.

ngakak bacanya :))
Sesampainya kembali di basecamp PGPI, akhirnya ditetapkan bahwa destinasi selanjutnya adalah pulang. Eaaa,, ga jadi lanjut ke Bongkok. Bek kudu ngacir ke Semarang besok, Epa kudu prepare buat ke Cilacap hari Senin., dan Ali yang jalannya mulai renta. Hahhaha. Yasuwlah. Usai ngaso dan berberes, ga lupa ucapin terima kasih dan pamit ke Kang Dani, kita pun berangkat meninggalkan pos PGPI. 

Belajar dari pas berangkat yang gw ngantuk di motor, Epa pun mengambil tindakan keamanan, yaitu ngiket gw di motor. Abis isi bensin sampe full, mulailah gw diiket pake sarung. Sial. Ini pertama kalinya gw sampe diiket di motor. Udah kayak anak bocah. Selesai dirante (lebay), Epa bilang,”nah sekarang terserah lo deh Ra mau tidur apa kaga (sambil nyengir).” Asem. Tapi bener sih, ujung”nya gw emang tidur. Huahhahahaha.. Sekitar jam setengah 11 malam, kita nyampe kembali di  rumah gw dan makan nasi goreng plus tahu gejrot dengan lahapnyaa..

Spesial thanks to Kang Dani yang kayaknya apes banget ketemu tim overdosis ini dan berbaik hati sampe nemenin kita naik biar kita ga nyasar. We remember you good, Kang Dani. Makasih ya. Kalo ke Jakarta atau Depok kabarin. Kami siap menjamu. :) Epa yang udah rempong nyetir sambil jagain karena gw tidur sepanjang di motor berangkat dan pulang. Ga nyangka udah 6 gunung barengan sama Epa. Rekor temen naik bareng terbanyak yang rekor sebelumnya dipegang sama Caca, 5 gunung. Bek yang udah mencetuskan perjalanan ini, nge-back up kita semua, juga udah stand by melek untuk masak disaat kita semua teler. Warbiasak kau nak. Dan Ali yang baru kenal langsung 2 gunung kita Al. Hahhaha. Tengah malam saat gw ketik ini, rasanya pengen jalan lagi sama kalian. Udah pewe banget jalan sama kalian. Yuk jalan lagi :))

Di perjalanan ini sebenernya total ada 6 video, tapi 2 aja yang dipublish, hihihi. 1 video di Rakutak dan 1 video di Puntang. Enjoy. :D



Minggu, 24 April 2016

Catper Gunung Merapi, 5-6 April 2016 via New Selo


Akhirnya kita bertemu, Merapiku yang cantik..

Akhirnya yaaa setelah penolakan sekian lama, Merapi menyambut kunjungan gw dengan haaangat sekali. Mimpi pengen ke Merapi ini udah ada sejak gw SMA kelas 2. Dan sejak gw bermimpi ke Merapi, tiap mau eksekusi, ada aja halangannya yang berujung batal. Waktu 2006 Merapi meletus. Okeh, ga jadi. Setelah itu gw vakum naik gunung selama 5 tahun, baru naik gunung lagi tahun 2011. Keinginan ke Merapi masih tertanam. Ada kesempatan di akhir Agustus 2013, tapi cancel karena anggota tim ada yang mengalami kecelakaan, jatoh dari motor. Ada kesempatan lagi di akhir Mei 2015. Tapi inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun, ada tragedi pendaki jatuh ke kawah Merapi dari puncak di pertengahan Mei. Dan tragedi itu berimbas pada tutupnya Merapi sampai jangka waktu yang tidak ditentukan. Saat itu akhirnya gw melipir ke Merbabu, tetangga Merapi. Huhuhuu Merapi..

Tapi jodoh emang ga kemana. And God knows the right time. Dan perjodohan gw dengan Merapi terjadi di tanggal 5-6 April tahun ini, hampir 10 tahun sejak gw mendambanya. Pendakian ke Merapi ini rencana awalnya adalah tanggal 30-31 Maret, cuma gw ada kerjaan di tanggal 31 nya yang ga bisa gw tinggal. Akhirnya reschedule sama tim, untungnya bisa, dan jadilah minggu depannya. Dan tim awal Merapi berjumlah 3 orang; gw, Respa, dan Bek. Men, rasanya udah lama banget ga naik gunung bertiga. :D Gw kenal Respa waktu ke Prau. Dan barengan lagi waktu ke Merbabu. Nama Aslinya Respatyadi. Dipanggilnya Epoy. Gw manggilnya kadang Epoy kadang Respa. Sedangkan Bek ini temen SMAnya Respa. Nama aslinya Taufiq Akbar. Ga tau kenapa bisa jadi Bek. Wakakakk. Dan trip ke Merapi ini akan membuat Respa dan Bek khatam gunung” di Jawa Tengah. Ga sopan! -__-

Setelah rapat pleno di rumah gw sampe jam stenga 12 malam, kita segera gerak cepat beli tiket di keesokan harinya. Ciyeeh. Dan ketika tiket kereta pp udah dibayar tunai tuh rasanya legaa. Yes, my beautiful Merapi, we’re comiiiing. *jingkrak”

hasil rapat pleno. Caelah

Kita berangkat hari Senin tanggal 4 dari stasiun Pasar Senen jam 4 sore. Di stasiun Pasar Senen ini kita ketemu sama anggota tim, temennya Respa, Herman. Juga Baje, yang ngakunya ga jadi ikut, tapi ternyata jadi. Di kereta gw barengnya sama Respa dan Bek. Herman dan Baje beda gerbong berhubung pesan tiket keretanya ga bareng. Tapi karena mereka berdua juga terpisah satu sama lain jadi mereka main ke gerbong gw dan anak” terus. Empit"an deh. Wkwkwk.

me among the bodyguards :)) kika: Herman, Baje, gw, Respa, Bek

Hari ke-1, 5 April 2016
Kita nyampe di stasiun SoloJebres jam 2 pagi. Berhubung masih pagi banget dan juga masih ngantuk, kita memilih untuk tidur menunggu pagi. Setelah subuh dan sarapan, baru deh berangkat ke stasiun Solo Balapan untuk menjemput anggota tim kita, cewe, namanya Titik. Yeay, I’m not the only one woman in team. Total anggota tim Merapi ini berjumlah 6 orang, jadi 2x lipat dari yang awalnya cuma bertiga. :D

stasiun SoloJebres dini hari, masih gelap
Sesudah tim lengkap, kita berangkat menuju New Selo pake mobil yang kita carter buat antar jemput. Gaya ye. Hampir 2 jam perjalanan, akhirnya tiba di New Selo. Rasanya udah ga sabar pengen cepet” naik euy. Pitepiuw. Setelah makan siang yang juga ngga makan nasi, makannya mie, berhubung warung” di New Selo ga ada jual nasi, kita bersiap untuk mulai nanjak. Tepat jam setengah 2 siang, setelah membentuk lingkaran dan berdoa, pendakian ke Merapi resmi dimulai. Aw aw aw *ngeces

Trek awal Merapi via New Selo berupa aspal yang menanjak sebelum akhirnya beneran tanah. Sekitar sejam perjalanan, sesampainya di gerbang pendakian, kita rehat sebentar di pendoponya. Udah ada kelompok pendaki lain juga yang sedang rehat di sana. Setelah dirasa cukup, kita pun lanjut naik. Dan terjadilah kejadian kocak yang bikin kita semua, bahkan pendaki lain, ngakak pol, yakni Baje jatuh dengan posisi jatuh yang super duper ga elegan. Kakinya sampe ke atas men. Tipe” jatoh yang sakitnya ga seberapa tapi malunya itu loh. Asli gw ngakak sampe megangin perut, susah ngambil napas, dan keluar airmata. Buakakakakakakakk Je,, Je.. Aya” wae lo ah.

Lanjut jalan. Kita jalan super santai. Apa lagi masih nyambi ketawa inget kejadian ngakak tadi. Nengok ke belakang, view Merbabu menemani sepanjang perjalanan. Klo kata Herman, Merbabu tuh gunung semok, padet. Aiih. :)) Sampai di pos 1. Rehat lagi. Wkwkwk. Setelah dirasa cukup, lanjut jalan. Klo rehatnya kelamaan nti malah mager juga soalnya. Terlebih angin dingin mulai menyapa. Brrr..

Merbabu selalu menemani. How sweet! :D

Beberapa menit setelah nglewatin pos 1, kita tiba dipercabangan. Titik ngambil kanan, gw ngambil kiri. Anak” pada ngambil kanan karena treknya emang terlihat lebih enak. Kita, khususnya gw, pikir tuh jalan bakal nyatu di depan, ternyata ngga. Dan jadilah gw solo hiking. Oh God! Men, mana waktu itu udah sore. Air minum yang gw bawa juga udah abis. Ga bawa headlamp ataupun senter. Jengjengjeng. Gw jalan sambil saut”an sama anak”. Trek yang gw lewatin adalah lurus dengan tanjakan berbatu trus menerus. Sedangkan mereka ke kanan. Piye toh. Tiap saut”an, suara mereka muncul dari kanan bawah gw. Terdengar jauh. Dan sebelah kanan gw itu emang bukan trek, tapi jurang. Nah loh. Sempet bingung trek mereka itu sebenernya kemana. Mulai menganalisis trek siapa yang error, kenapa hasil percabangan tadi bisa begitu timpang. Gw pandangin trek yang terhampar di depan mata gw. Lalu beralih ke arah sumber suara mereka. Gw pandangin juga daun” pohon yang bergerak sekitar 30 meter di kanan bawah gw, pertanda ada yang melewatinya. Ternyata mereka lewat situ. Saat itu yang gw khawatirkan adalah penerangan dan air minum yang ga gw milikin. Tapi hasil observasi gw  membuktikan bahwa yang gw laluin ini emang trek ko, bukan jalur sesat, buntu, dan sebagainya. Terbukti dengan adanya ikatan tali di pohon. Juga sampah bungkus permen di trek (jangan buang sampah sembarangan plis). Gw tatap langit di atas gw. Kurang dari sejam lagi pasti bakal gelap. Gw punya 2 opsi; balik ke percabangan tadi dan ambil jalur ke kanan, jalur yang diambil anak”, atau lanjut jalan di jalur gw sekarang ini walaupun sendirian. Gw harus cepet nentuin. Terlebih suara Bek yang teriak,”Jalan trus Ra, jalan terus” bikin gw semakin yakin untuk jalan terus, bukan balik ke percabangan tadi..

Sekitar setengah jam solo hiking, dengan trek yang bener” jauh dari kata enak, akhirnya gw sampai di pos 2. Saat itu masih jam 5 lewat. Alhamdulillaah, nyampe sebelum gelap. Segera teriak ngabarin, ”oi! Gw udah di pos duaa.” Ga ada sautan. Yasuw duduk rehat aja sambil nunggu anak”. 10 menit nunggu, ko anak” belum nyampe juga ya. Gw panggil”in deh. Aih, masih ga ada sautan. Apa jalan mereka tembusnya langsung ke pos Pasar Bubrah ya?? Ah masa sih langsung pintas gitu, ga lewatin pos 2 dulu?? Sekitar 15 menit nunggu di samping plang pos 2, mana ga ada pendaki lain yang lewat, akhirnya gw denger suara Bek yang manggil” gw. Finally! Gw samperin dah tu suara. Akhirnya ketemu. Tapi loh, Bek sendirian, ga bareng anak”. Ternyata dia push jalan cepat karena khawatir setelah tau bahwa gw ga ada penerangan. Anak” masih jauh di belakang. Oalaah. Gw selalu dikelilingi orang” baik. Terima kasih Allah. Makasih ya Beeekk. :D Sekitar setengah jam sejak gw ketemu Bek, akhirnya kita kumpul lagi full team. Alhamdulillaah.

Ternyata trek yang dilewatin anak” itu trek yang emang landai sih, cuma karenanya jadi lama, dan naik turun belok”. Beda sama trek gw yang bebatuan dan nanjak terus straight to the point. Wooh pantesan. Untunglah gw udah kumpul lagi sama mereka sebelum gelap. Klo kga,, yasuw abaikan. Hahhaha :D

Setelah tenda yang tinggi dan besar terpasang, yang pasang flysheet tendanya aja kudu loncat”an, pendek” semua siih *ngakak, kita berpewe ria di tenda dan mulai masak makan malam. Dan ni tenda emang bener” pewe. Kapan lagi ye kan ga cuma bisa berdiri tegak di dalem tenda, tapi gw juga bisa loncat”an euy. Wkwkwk. Usai makan dengan menu nasi kangkung dan telor, kita bersiap tidur. Besok rencananya mulai jalan jam 4 pagi. Setelah pasang alarm di jam 3, kita mulai tidur..

Hari ke-2, 6 April 2016
Gw kebangun di jam 2 pagi dan teringat belum bikin pudding buat nyemil” cantik di puncak. Langsung bangun dan nyalain kompor. Ternyata Respa, Herman, dan Titik juga bangun. Jadilah kita b4 masak”. Dilanjut isi perut sebelum mulai muncak.

Ujung”nya kita baru jalan dari tempat ngcamp jam setengah 6 pagi dari yang rencana awal jam 4. Huahhahahaha. Sekeluarnya dari tenda juga disambut sama gerimis. O ow.. Tapi kita lanjut jalan terlebih gw yang optimis aka ngarep bahwa cuaca pasti akan cerah. Alhamdulillah gerimisnya sebentar aja. Sesampainya di Pasar Bubrah, kabut menyambut. Eaaa. walaupun begitu, kita tetap jalan menuju puncak.

Di perjalanan menuju puncak, kita ada ketemu bule dan terjadilah percakapan berikut;
Gw: you got the top, Sir??
Bule: yup
Gw: how’s the view??
Bule: good
Gw: (dalam hati) sial ni bule jawabnya singkat” amat. Padahal gw pengen ngajak ngobrol -_-
Baje: where do you come from??
Bule: Colombia
Baje: wow, so long
Bek: so long?? So far, Baje. So long mah choki choki!
Pecahlah ketawa kita. Dan lagi” semua ngakak pol. Yakeles so long Je,, Je. Dan celetukan Bek bahwa so long mah choki choki bener” pas dan kocak parah. Bulenya cuma senyum aja ngeliat kita. Au dah dia ngerti apa kagak. Wakakakakakk.

Setelah 1 jam 15 menit berjalan dari pasar Bubrah, akhirnya kita nyampe juga di puncak Garuda Merapi. Tunggu, kudu melipir sedikit ke kiri karena trek puncak garuda ancur”an. Begitu ketemu sedikit lahan datar, tempat nyantol CCTV yang mengawasi aktivitas kawah, baru bisa mengucap syukur dalam sujud dan mencumbu pasir puncak Merapi dengan penuh luapan kerinduan. Merapiii,, akhirnya kita bertemu. Mendambamu sedari SMA. Terima kasih Allah, mimpi sedari SMA tertunaikan. Terima kasih telah menyambutku dengan hangat, duhai Merapi.. *peluk” pasir Merapi.

kawahnya horror


tusuk gigi yang bikin ngilu

Dan kecantikan puncak Merapi benar” mencekam. Trek puncaknya sempiiitt. Gw namain sebagai trek kepleset wassalam. Melihat tebing yang dinamain sebagai puncak tusuk gigi karena bentuknya yang melancip mirip tusuk gigi raksasa, tempat pendaki berfoto dan terpleset jatuh ke kawah tahun lalu, bener” bikin ngilu. Melongok ke kawahnya lebih” ngilu. Salut kepada tim SAR dan relawan yang telah berjuang dan berhasil mengangkat tubuh korban sehingga bisa dikembalikan ke keluarga dan dimakamkan dengan layak. Semoga tim SAR dan relawan yang terlibat mendapat pahala yang tiada habisnya. Aamiin.

Wajar jika larangan mendaki sampai puncak Merapi benar” digalakkan. Sedari gerbang dan tiap pos, tulisan “Dilarang Keras Mendaki Sampai Puncak” selalu menyambut. Terlebih di pos Pasar Bubrah. Sesampainya di puncak Merapi gw benar” paham akan larangan tersebut. Trek puncak Merapi awut”an, minim lahan datar, dan rentan longsor. Terasa tidak solid. Tapi yah gimana,, sejujurnya target pendakian adalah mencapai puncak. Maafkan atas pelanggaran yang dilakukan.. :( Semoga tidak ada kejadian mengenaskan lagi yang menyulitkan dan membuat tim SAR bertaruh nyawa dalam melakukannya, baik di Merapi maupun di gunung manapun. Aamiin. Untuk para pendaki lain yang ingin ke Merapi atau gunung lain,, please please please, mohon dengan sangat, safety first,, not selfie first..

Setelah 1 jam menikmati puncak Merapi, kita bergegas turun kembali ke camp. Anak” memilih menuruni pasir Merapi dengan berlari. Gw selow ajalah, sosorodotan. Kan gw pendaki seloow *alesan. Wkwkwk. Dan ga lama kemudian kita sampai di tempat camp. Cihiy
di Pasar Bubrah pas turun

Di tempat camp kita foto” dülu berhubung kemarin belum karena udah keburu gelap dan tadi pagi kabut dan gerimis. Foto sama the big tent yang super pewe juga sebelum dibongkar. Abis itu baru deh mulai packing. Tepat jam setengah 11, setelah membentuk lingkaran mengucap syukur dan berdoa, kita turun kembali ke New Selo.
in the big tent

Kita turun lewat jalur solo hiking gw kemarin untuk menyingkat waktu. Dan turun ini the boys ngusir gw dan Titik untuk turun duluan. Mereka pasti mau ngrokok deh di belakang, berhubung klo jalan bareng gw kan mereka ga bisa ngrokok. Hihihi. Sesampainya kembali di gerbang pendakian, gw dan Titik milih rehat di pendoponya sambil nunggu mereka untuk jalan bareng lagi. Dan setelah kumpul full team, kita minta Baje untuk reka ulang pose jatohnya kemarin, mumpung di tempat yang sama. Huahhahaha tetep. Pis je.

Sesampainya di New Selo, tepat jam 1, mobil jemputan udah menyambut. Tapi kita masih duduk” di warung. Baje yang terakhir nyampe ngambek karena kita tinggalin. Gw curiga dia ada jatoh lagi pas turun dari gerbang dan sedih karena ga ada gw dan anak” yang ngetawain lagi. Wkwkwk. Rehat sebentar, kita pun langsung cus ke stasiun Solo Balapan untuk ngdrop Titik dan lanjut ke stasiun SoloJebres untuk pulang, ga tega soalnya supirnya udah datang dari jam 11, padahal kita janjian minta jemputnya emang jam 1. On time kan kita :p

Usai cipika-cipiki sama Titik, kita langsung lanjut ke Solojebres. Sesampainya, setelah cipika-cipiki sama supirnya, eh, ngga deng, setelah ngucapin makasih maksudnya, kita langsung nyari tempat makan di sekitaran stasiun. Laper meeenn. Abis itu dilanjut mandiii. Setelah Seger, gw, Respa, Bek, dan Herman segera masuk ke stasiun untuk nyambut kereta kita yang jadwal keberangkatannya jam 16.57. Baje sendirian deh. Jadwal kereta dia jam 23.48. Ngaret sekitar 15 menit, akhirnya kereta yang ditunggu-tunggu datang, langsung naik nyari tempat duduk. Ga pake lama kereta pun segera berangkat menuju Jakarta. Sampai jumpa Surakartaaa :D

Terima kasih tim Merapi; special thanks to Respa dan Bek, temen barengan ke dan dari stasiun, di kereta, dan semuanya. Bertigaan terus udah kayak Lingua. Titik, temen barengan buang hajat. Huahhahaha. Sukses merantau ke negeri orangnya nanti ya Tiik. Doa kami menyertaimuu. Herman yang klo lututnya kepentok pohon langsung bilang,”aah,, otak gw..” Wakakakk. Dan Baje yang bikin ngakak pol dengan pose jatuh dan so long choki choki nya. Memorable abis! Perjalanan ke Merapi ini terasa ringan dan kocak sama kalian.  Thanks, guys. :D

Dan ini video di puncaknyaaa. Untung Respa inget untuk bikin video :D